Minyak Mentah, Tarik Tajam Wall Street
Sesi perdagangan bursa Wall Street dinihari tadi (06/06) terpantau menguat tajam, dipicu oleh harga minyak yang melompat tinggi, jatuhnya dolar AS terhadap euro dan masuknya kembali para investor karena penurunan tajam harga minyak pekan ini. serta laporan dari Departemen Tenaga Kerja AS tentang turunnya jumlah klaim pengangguran (jobless claim), kembali memunculkan optimisme mengenai perekonomian.
Harga minyak mentah kembali rebound dari level tiga minggu terendah setelah dollar kembali anjlok dan memicu spekulasi para investor di pasar berjangka.
Kontrak berjangka minyak utama New York, minyak mentah jenis "light sweet" untuk pengiriman Juli, melonjak 5,49 dolar AS menjadi ditutup pada 127,79 dolar AS per barrel. Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli, melompat 5,44 dolar AS menjadi mantap pada 127,54 dolar AS per barrel.
Akibatnya seluruh indeks utama AS terpantau menguat tajam pada penutupan perdagangannya: Dow Jones menanjak 213.97 atau 1.73% ke level 12,604.45; Nasdaq menguat 46.80 atau 1.87% ke level 2,549.94; dan indeks S&P 500 melonjak 26.85 poin atau 1.95% ke level 1,404.05.
Sementara itu dari dalam negeri dilaporkan bahwa Bank Indonesia lebih memilih menaikkan BI Rate secara moderat, sebesar 25 basis poin, menjadi 8,50%, sebagai langkah antisipasi untuk meredam ekspektasi inflasi yang diprediksikan mencapai 11,5%-12,5% pada tahun ini.
Langkah BI tersebut membuat Rupiah juga turut lega, karena kenaikan itu diharapkan bisa membantu meredam
inflasi yang kini sudah menembus dua digit untuk laju inflasi Mei (YoY) 10,34%. Dan juga membuat selisih bunga dengan the Fed tidak makin lebar hingga 6,5% karena bunga the Fed kini sebesar 2%.
Di pasar saham, dampak kenaikan BI Rate direspons positif. Setelah melemah dalam empat hari terakhir ini, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup menguat 37,09 poin di level 2.399,68 kemarin. (bloomberg/iwan)
Friday, June 06, 2008
Market Review
Posted by Russley Futures-Administrator



