Wednesday, May 28, 2008

Market Review

Bursa Wall Street kembali bergairah

Bursa AS, Wall Street, ditutup menguat, dipimpin oleh sektor teknologi, setelah turunnya minyak yang akan berujung mengurangi kecemasan mengenai pembelanjaan konsumen dan bisnis.

Pagi ini pada pembukaan pasar Asia, harga minyak mentah Light Sweet tercatat sebesar 128.46 dollar AS per barel. Sedikit turun, jika dibandingkan dengan minggu lalu, yang sempat menembus 135 dollar AS per barel.

Saham perusahaan berorientasi konsumen, seperti ritel dan saham teknologi menguat, Namun saham energi jatuh bersamaan dengan turunnya minyak.

Indeks Dow Jones menguat 68,72 poin, atau 0,55%, menjadi 12.548,35. Indeks S&P 500 menguat 9,42 poin, atau 0,68%, menjadi 1.385,35. Indeks Nasdaq menguat 36,57 poin, atau 1,5%, menjadi 2.481,24.

Di pasar New York semalam telah dirilis laporan soal perumahan. Dilaporkan oleh Departemen Perdagangan AS, bahwa penjualan meningkat 3,3% di April menjadi 526.000 unit dari 509.000 unit bulan sebelumnya.

Dibandingkan tahun sebelumnya, penjualan turun 42%, penurunan tahunan terbesar dalam 27 tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa krisis sektor perumahan masih menjadi ancaman terhadap ekonomi.

Sementara itu, Conference Board (berbasis di New York), Selasa (27/5), mengatakan, indeks keyakinan konsumen (consumer confident) sudah anjlok menjadi 57,2 persen pada bulan Mei, turun dari 62,8 persen pada bulan April.

Franco, dikutip dari Reuters, mengatakan, kekhawatiran konsumen, ditambah kenaikan harga yang terus berlanjut, kini dalam angka tertinggi sepanjang masa. Hal ini kemungkinan masih akan memburuk dan inflasi yang meningkat di berbagai negara juga makin menambah kekeruhan.

Salah satu akibatnya adalah gejolak pasar yang makin sering terjadi di berbagai bursa. Para investor bingung dengan nilai-nilai aset yang mereka pegang. ”Pasar sedang tanpa arah,” kata Masaru Hamasaki dari Toyota Asset Management, Selasa (27/5) di Tokyo. Surat utang Pemerintah AS dan Jepang yang – dulu - dianggap sebagai investasi aman kini juga tidak lagi menjadi pegangan karena kemerosotan nilai obligasi terbitan pemerintah adidaya dalam ekonomi dunia itu. (reuters/ap/afp/iwan)

Komentar Analis

Berita Terbaru

Forecasts dan Analysis