Monday, May 26, 2008

Market Review

Bursa AS Kembali Tertekan, Dibayangi Kekhawatiran Inflasi

Menutup perdagangan mingguannya, bursa AS ditutup melemah atas kekhawatiran tingginya harga minyak yang berdampak terhadap perekonomian AS, terutama meningkatnya angka laju kenaikan inflasi.

Bursa AS, Wall Street, pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, ditutup melemah dimana investor mengkhawatirkan kondisi perekonomian AS yang makin lemah dengan menuding kenaikan harga minyak, yang oleh sebagian analis serta para pengambil kebijakan dianggap salah satu ekses dari krisis keuangan yang mendera hampir seluruh negara di belahan dunia ini.

Kenaikan minyak saat ini menimbulkan kesadaran baru bahwa perekonomian bisa jadi mengalami stagflation dimana pertumbuhan mengalami penurunan saat terjadi kenaikan harga-harga. Inflasi masih rajin membayangi pertumbuhan ekonomi secara global.

Indeks Dow Jones melemah 145.99 poin atau 1.16% ke level 12,479.63; indeks S&P 500 anjlok 18.42 poin atau 1.32% ke level 1,375.93; dan Nasdaq merosot 19.91 poin atau 0.81% ke level 2,444.67. Artinya, minggu ini Dow anjlok 3.9%, S&P 500 melemah 3.5% dan Nasdaq merosot 3.3%. Semuanya tercatat sebagai pelemahan terbesar (dalam persentase) dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.

Jum'at malam (23/5), data dari sektor perumahan menunjukkan hasil mixed. Pelemahan existing home sales nyatanya lebih sedikit dibandingkan dengan perkiraan. Sementara itu, persediaan rumah yang belum terjual melonjak 10.5% bulan lalu.

Wall Street pekan ini menantikan beberapa data ekonomi, antara lain penjualan rumah baru April pada 28 Mei, laporan data cadangan minyak AS pada 29 Mei, data produk domestik brudto (PDB) kuartal pertama 2008 pada 29 Mei, serta laporan pengangguran juga pada 29 Mei.

Dari pasar uang, pergerakan nilai tukar dolar pada perdagangan pagi ini terpantau masih berada pada kisaran terendahnya dalam satu bulan terhadap euro (26/05). Niai tukar dolar belum dapat mengalami penguatan disebabkan oleh ekspektasi bahwa laporan harga rumah di AS yang akan dirilis besok akan kembali memperlihatkan penurunan yang tajam. Sementara itu indeks keyakinan konsumen juga akan akan menunjukkan tingkat pesimisme yang paling tinggi dalam 15 tahun belakangan.

Sementara itu dari dalam negeri, pasar akan lebih memperhatikan dampak dari kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM rata-rata 28,7 persen. Aksi demo makin marak menentang kenaikan harga BBM. Pasar juga akan mengantisipasi tingginya inflasi Mei yang diprediksi Badan Pusat Statistik (BPS) akan mencapai 1 persen karena dipicu kenaikan harga BBM. (reuters/iwan)

Komentar Analis

Berita Terbaru

Forecasts dan Analysis