Wednesday, May 21, 2008

Market Review

Minyak Tembus 129 Dolar AS, Indeks Saham Bertumbangan

Harga minyak terus bergerak naik hampir mencapai 130 dolar AS per barrelnya. Kenaikan harga minyak tersebut berlangsung pada saat pasar diguncang oleh kekhawatiran akan suplai sehingga memicu aksi pembelian dan mengantarkan harga minyak ke rekor tertinggi baru.

Pasar bereaksi atas gangguan pasokan minyak di Prancis dan ketidakinginan OPEC untuk meningkatkan produksi, kata sejumlah analis. "Secara keseluruhan, peserta pasar saat ini memilih untuk fokus pada sisi pasokan, dengan investor meragukan terpenuhinya permintaan untuk bahan bakar hasil sulingan dari Asia, Timur Tengah," kata analis Sucden, Andrey Kryuchenkov.

Sejumlah nelayan Prancis yang menuntut bantuan negara untuk mengatasi melonjaknya harga bahan bakar memblokade depot minyak Mediterania terbesar di Prancis di Fos-sur-Mer, Selasa.

Kenaikan harga minyak itu pula turut memicu kemerosotan indeks saham, Dow Jones anjlok 199.48 poin atau 1.53% ke level 12,828.68; indeks S&P 500 melemah 13.23 poin atau 0.93% ke level 1,413.40; dan Nasdaq merosot 23.83 poin atau 0.95% ke level 2,492.26.

Bertumbangannya indeks ini seakan memukul optimisme pasar beberapa waktu lalu, saat pasar yakin bahwa harga saham masih kuat naik lagi serta dimana perekonomian masih dalam kondisi yang kondusif meski ada kenaikan minyak namun krisis kredit sudah mualai teratasi . Keyakinan pasar semakin runtuh setelah data ritel dilaporkan dan adanya pernyataan wakil gubernur bank sentral, Donald Kohn yang menyatakan bahwa The Fed belum berencana untuk menaikkan suku bunga dalam waktu dekat ini.

Hari ini fokus pasar akan menantikan data ekonomi dari Jerman, IFO bisnis, diestimasikan menurun, MPC meeting minutes dengan estimasi masih mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi. Dipasar Eropa pelemahan dolar berpeluang akan berlanjut, namun untuk mendorong penurunan dolar tidak terlalu jauh nampaknya para spekulan akan mempertimbangkan FOMC minutes. Apabila hasil FOMC nanti malam memberikan pernyataan tentang stop cut rate atau malah berpeluang The Fed akan menaikan suku bunganya kembali, maka the greenback tidak tertutup kemungkinan akan berbalik rebound di pasar AS nanti.(antara/afp/iwan)

Komentar Analis

Berita Terbaru

Forecasts dan Analysis