Minyak Dunia Tembus 127 Dolar AS, Wall Street Flat
Untuk pertama kalinya, minyak dunia menembus 127 dolar AS per barrel Jumat (16/5). Kontrak pengiriman minyak mentah light sweet untuk bulan Juni mendatang naik 3,31 dolar AS menjadi 127,43 dolar AS per barrel dalam transaksi di bursa komoditas New York Mercantile Exchange menjelang sore hari di Eropa.
Harga minyak tertinggi sebelumnya adalah 126,98 dolar AS per barrel dalam transaksi Selasa (13/5). Sementara pada transaksi Kamis (15/5) kemarin, harga minyak ditutup pada 124,12 dolar AS per barrel.
Harga minyak dunia terus melonjak Jumat ini setelah beredar sejumlah berita yang menimbulkan sentimen negatif di pasar. Firma manajemen resiko energi AS Cameron Hanover menerangkan kemungkinan berlanjutnya lonjakan harga minyak sehingga berpotensi untuk lebih besar mengguncangkan stabilitas harga komoditas ini.
Sedangkan, Bursa Wall Street pada perdagangan di akhir pekannya (17/05) ditutup flat menyusul menguatnya saham-saham energi dan menutup sentimen negatif dari indikator makroekonomi yakni Indeks Keyakinan Konsumen yang menunjukkan angka terendah dalam 28 tahun.
Indeks Consumer Sentiment berdasarkan survei Reuters dan Universitas Michigan bulan ini anjlok ke level 59.5 dibandingkan prediksi 62.0 dan angka periode sebelumnya 62.6. Indeks housing starts yang rebound sempat menghadirkan optimisme pada awal sesi. Housing starts untuk April menguat 8.2%
Indeks Dow Jones melemah 5.86 poin atau 0.05% ke level 12,896.80; indeks S&P 500 menguat tipis 1.78 poin atau 0.13% ke level 1,425.35; sementara Nasdaq melemah 4.88 poin atau 0.19% ke level 2,528.85.
Kenaikan harga minyak setinggi itu memberi “kemakmuran” bagi para penghasil minyak. Namun juga perlu di waspadai bahwa pertumbuhan ekonomi yang melejit memberi persoalan baru di dalam negeri. Terbukti, setidaknya ada setengah dari anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang lebih miskin tahun 2005 daripada 30 tahun lalu. Bahkan, negara penghasil minyak yang memberi harapan, seperti Aljazair dan Nigeria, terjebak konflik internal selama beberapa dekade.
Salah satu penyebab adalah penyakit belanda (Dutch disease). Julukan kepada Belanda yang kaya mendadak pada dekade 1960-an setelah menemukan cadangan gas di Laut Utara. Masuknya devisa dari ekspor gas ke Belanda menyebabkan nilai mata uangnya menguat, yang selanjutnya menurunkan daya saing ekspor. Produk pertanian dan manufaktur Belanda mengalami penurunan daya saing. Di Nigeria, booming minyak pada dekade 1970-an juga membuat kinerja ekonomi anjlok dan hingga kini tak pulih. (reuters/bloomberg/wall street journal/iwan)
Monday, May 19, 2008
Market Review
Posted by Russley Futures-Administrator



