Monday, April 28, 2008

Market Review

FOMC dan Non-Farm Payrolls, Fokus Minggu Ini

Pasar Saham AS, Wall Street, pada penutupan Jumat (18/4) lalu berakhir mixed (beragam), setelah pada awal perdagangan sempat tertekan oleh kekhawatiran tingginya inflasi dan tingginya harga minyak mentah. Namun kinerja laporan keuangan yang memuaskan pada pekan itu berhasil mengalihkan perhatian investor.

Dow Jones industrial average menguat 42,91 poin (0,33 persen) ke 12.891,86, after setelah sempat turun hampir 100 poin di awal sesi. Sedang untuk keseluruhan The Dow pekan lalu berhasil bertambah hampir 1 persen. Sedang indeks S&P 500 naik 9,02 persen (0,65 persen) menjadi 1.397,84, sehingga dalam sepekan lalu meningkat 2,1 persen.

Sementara indeks komposit Nasdaq tertekan oleh perkiraan Microsoft Corp., sehingga ditutup turun 5,99 poin (0,25 persen) ke posisi 2.422,93, setelah sempat jatuh 1,6 persen. Namun secara keseluruhan, pekan lalu Nasdaq berhasil menguat 1,4 persen.

Untuk pekan ini, Wall Street menanti kebijakan, Bank Sentral AS, Federal Reserve yang diperkirakan beberapa analis akan kembali menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Meski ada kemungkinan untuk menghentikan penurunan serta mengkaji dampak serangkaian pemangkasan suku bunga dan beberapa kebijakan stimulus lainnya terhadap ekonomi AS. Ancama inflasi juga diperkirakan akan menjadi perhatian pasar.

Pasar juga akan mendapatkan gambaran mengenai perekonomian AS dari produk domestik bruto (PDB) AS untuk triwulan pertama 2008 ini yang diperkirakan ekonom akan tumbuh 0,2 persen, data upah (non-farm payrolls) untuk April, data pendapatan dan belanja personal.

Dari Dalam Negeri, sentimen pasar domestik masih dibayangi ancaman tingginya inflasi, yang dikhawatirkan dapat mengancam APBN dan dapat berakhir dengan terancamnya stabilitas rupiah. Selain itu, belum adanya kepastian besaran makro ekonomi dalam menghadapi masalah global telah menyebabkan para pelaku pasar keluar dari pasar.

Selain itu tingginya harga minyak yang masih bercokol di kisaran 119 dollar AS, juga dikhawatirkan bisa menjebol APBN karena harus menanggung subsidi yang makin membengkak, akibatnya Pemerintah masih belum bisa memutuskan soal kebijakan BBM. (iwan)

Komentar Analis

Berita Terbaru

Forecasts dan Analysis