Wednesday, April 23, 2008

Market Review

Wall Street Bearish, Minyak Melesat Ke USD119.90/barrel

Bursa AS pada perdagangan malam ini (23/04) mencatatkan pelemahan terbesarnya dalam sepekan menyusul minyak yang mencatatkan rekor dan laporan pendapatan emiten yang mengecewakan dari sektor teknologi, kesehatan dan konsumsi yang bisa menimbulkan kekhawatiran bahwa perlambatan tersebut akan berdampak pada sektor perbankan.

Terpantau semalam, Indeks S&P 500 anjlok 12.23 poin (0.9%) ke level 1,375.94; Dow Jones menurun 104.79 poin (0.8%) ke level 12,720.23; dan Nasdaq Composite tumbang 31.1 atau 1.3% ke level 2,376.94.

Harga minyak mentah terus melesat dan mencetak rekor tertinggi baru Selasa (22/4) ini hingga menembus 119 dolar AS per barrel. Dari bursa komoditi New York Mercantile Exchange, kontrak pengiriman minyak light sweet untuk Mei 2008 naik 1,87 dolar AS atau 1,6 persen serta berada pada 119,35 dolar AS per barrel, setelah sempat menyentuh 119,74 dolar AS per barrel.

Sementara kontrak pengiriman minyak mentah Brent untuk bulan Juni tahun ini di bursa komoditi ICE naik 1,94 dolar AS menjadi 116,37 dolar AS per barrel setelah sempat melonjak ke rekor 116,75 dolar AS per barrel. Lonjakan harga minyak ini terjadi sebagai akibat dari kekhawatiran pasar terhadap ancaman menurunnya suplai serta merosotnya nilai dolar AS terhadap euro, hingga menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah, 1.6 per Euro.

Menyusul, European Central Bank (ECB), akibat didesak oleh situasi yang ada, kembali mensinyalkan bahwa mereka mungkin akan menaikkan suku bunga akibat tingginya inflasi. Tahun ini saja, minyak mentah sudah melonjak sebanyak 24% dan memicu bensin serta diesel mencatatkan rekor kenaikan pula. Selanjutnya, produsen minyak dari Nigeria masih belum bisa beroperasi normal kembali akibat masalah keamanan, diperburuk kondisinya akibat serangan para pemberontak terhadap 2 jalur pipa minyak di negara itu Senin (21/4).

Sedangkan harga rata-rata minyak mentah Indonesia dalam tiga bulan terakhir 97-98 dollar AS per barrel, mendekati batas toleransi APBN Perubahan 2008, yaitu 100 dollar AS per barrel. Jika batas itu terlampaui, pemerintah Indonesia dipastikan bukan hanya harus berhemat, tetapi juga dimungkinkan menaikkan harga BBM. (iwan)

Komentar Analis

Berita Terbaru

Forecasts dan Analysis