Kemarin malam (09/01) the World Bank merilis prediksinya mengenai pertumbuhan ekonomi di Amerika, Jepang dan Eropa. Menurut World Bank pertumbuhan ekonomi di negara-negara tersebut diyakini berindikasi akan melemah sepanjang tahun 2008 dipengaruhi kondisi kredit yang lebih ketat dan tingginya harga minyak. Kalau pada 2007 pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 3,6%, untuk tahun ini estimasi pertumbuhan sekitar 3,3%. Untuk Amerika, pertumbuhan akan semakin melemah kebawah 2,00% dari laju pertumbuhan 2,2% tahun lalu. Tetapi walau tahun ini akan merupakan ujian bagi para policy makers, ahli ekonom senior Bank Dunia Elliot Riordan menyatakan Amerika mungkin berhasil lolos dari kondisi kontraksi. Resesi sektor perumahan yang memasuki tahun ke-3 sepertinya tidak akan menyeret seluruh ekonominya kebawah, dibantu oleh kenaikan ekspor yang kuat. Selain itu, dollar AS dilihat sebagai faktor beresiko untuk ekonomi global. Resesi di Amerika atau pemotongan tingkat sukubunga yang berlebihan dari the Fed dapat menyebabkan penurunan tajam USD.
Faktor yang dilihat membatasi pelemahan ekonomi dunia adalah melesatnya pertumbuhan ekonomi di China, India dan emerging markets lainnya. Setelah meningkat dalam laju pertumuhan 11,3% tahun 2007, sedangkan pertumbuhan ekonomi di China diperkirakan masih mencapai rekor tertinggi dunia pada 10,8%. Untuk poundsterling, ada kemungkinan rally-nya terbatasi atau berhenti pada sesi Eropa. Selain konfiden konsumer Inggris turun ke level terendah dalam 10 bulan, bursa saham Eropa semalam masih belum memperhitungkan koreksi 1,86% S&P dan Dow Jones. Ada kemungkinan range pergerakan mengecil dan trader enggan masuk pasar menjelang even keputusan rapat kebijakan Bank of England dan the European Central Bank hari ini.
Thursday, January 10, 2008
Market Review
Posted by Russley Futures-Administrator



