Dollar Menguat oleh Tingginya Inflasi AS
Mata uang dollar semakin menguat terhadap euro pada pasar valuta akhir minggu kemarin (15/12) oleh data tingginya tingkat inflasi AS yang diinterpretasikan oleh pasar bahwa the Fed masih belum akan memangkas bunga dalam waktu dekat ini , berdampak pada turunnya yield dari produk investasi berbasis dollar.
Di akhir pasar New York euro diperdagangkan pada $1.4423, merosot sampai 200 poin dibandingkan pasar AS sehari sebelumnya pada $1.4624. Mata uang British pound anjlok ke level $1.9755 dari posisi $2.0387 di New York sebelumnya, sementara dollar menanjak ke 113.42 yen dari sebelumnya 112.20 yen.
Data CPI (Consumer Price Index) yang dirilis Jum'at malam menunjukkan bahwa tingkat inflasi di sector konsumen AS telah melonjak tertinggi dalam periode lebih dari dua tahun, dipicu oleh kenaikan harga BBM. Sebelumnya the Fed telah memangkas bunga seperempat poin, lebih rendah dari ekspektasi pasar. Naiknya tinggkat harga-harga menujukkan bahwa the Fed kemungkinan akan tertahan memangkas bunga lagi untuk dapat mengontrol tekanan inflasi. Hal tersebut akan membuat yield dollar secara relative lebih kuat dibandingkan dengan sejumlah mata uang lainnya.
Dollar juga mendapatkan support dari data pada hari Kamis lalu dimana laporan Departemen Perdagangan AS menunjukkan kenaikan tingkat penjualan eceran (retail sales) yang melonjak 1.2% di bulan lalu. Ini lebih kuat dua kali dari prediksi para ekonom serta merupakan kenaikan terbesar dalam enam bulan terakhir. (RISET-iwan)
Monday, December 17, 2007
Market Review
Posted by Russley Futures-Administrator



