AS Libur, Dolar Lebih Tergantung Pada Eropa
Risk aversion kembali berlangsung secara global. Pengurangan eksposur ke resiko pada sesi Asia dipengaruhi melemahnya prediksi the Fed akan pertumbuhan ekonomi Amerika tahun depan, dan peringatan dari Henry Paulson yang berpendapat bahwa defaults pinjaman rumah tahun depan akan lebih besar. Pada sesi Eropa, risk aversion bertambah karena penurunan peringkat institusi keuangan, berita Northern Rock dan kemungkinan ada lagi sebuah perusahaan pemberi mortgage yang mengalami masalah seperti Northern Rock. Bursa saham Amerika yang dibuka koreksi menutup perdagangan dengan ke-3 indeks utama berakhir minus sekitar 1,5%. Risk aversion juga mempengaruhi berhentinya kenaikan harga minyak, walau sempat mencapai rekor tertinggi di $99,29 per barel sebelum data persediaan dirilis.
Pengalihan dana ke bentuk investasi yang lebih aman berlangsung sepanjang hari dan menyebabkan yields obligasi pemerintah Amerika, Inggris dan Jerman turun. Bahkan yields dari US Treasuries untuk 10 tahun sempat turun kebawah 4,00% untuk pertama kalinya sejak tahun 2005, semakin memperkuat ekspetasi penurunan suku bunga lagi dari the Fed. Kemungkinan tersebut kembali diperhitungkan hampir 100% oleh Fed funds futures. Bahkan terdapat minoritas yang memperhitungkan penurunan suku bunga sebesar 50 bp bulan depan. Kehati-hatian menjelang libur besar Thanksgiving Amerika dan Jepang turut mempengaruhi investor untuk sementara keluar dari carry trade, sehingga mempertajam unwinding carry trade yen dengan mata uang major. Rally yen yang paling ekstrim terjadi dengan dollar Australi sehingga mempengaruhi dollar berakhir menguat sekitar 220 poin terhadap dollar Australi. Pembelian yen dari pagi hingga sore menyebabkan USD/JPY turun sekitar 180 poin hingga mencapai level terkuat dalam 2 tahun di 108,23.
Dolar kembali menembus level rekor terendahnya terhadap sejumlah rival utamanya ditengah semakin yakinnya bahwa The Fed akan memangkas suku bunganya bulan depan. Rebound pada pasar ekuitas dan meningkat tipisnya minat terhadap aset-aset beresiko juga turut menekan dolar, dimana investor mulai kembali melirik mata uang ber-yield tinggi.
Dengan tutupnya pasar AS guna merayakan libur nasional Thanksgiving pada hari Kamis dan juga tutupnya pasar Jepang pada hari Jum’at, perdagangan nampaknya akan tipis sampai akhir pekan ini.
Dolar terkoreksi ke level rekor terendahnya yang baru di level 1.1006 Swiss franc, sebelum akhirnya rebound ke sekitar level 1.1015 franc per dolar. Sedangkan indeks dolar, barometer value dolar terhadap 6 mata uang utama dunia, menembus level rekor terendahnya di 74.916.
Terhadap euro, Swiss franc juga menguat dengan mencatat day high di 1.6326/29 franc per euro, menembus level tertingginya sejak 10 September (1.6331). Depresiasi dolar berlanjut setelah The Fed dalam minutes-nya mengatakan lemahnya pasar perumahan, ketatanya kredit dan tingginya harga minyak akan memicu melambatnya pertumbuhan ekonomi AS di tahun 2008 menjadi antara 1.8% hingga 2.5%, turun tajam dari 2.5% hingga 2.75% proyeksinya di bulan Juni. Data sentimen konsumen AS yang dirilis menembus level terendah 2 tahun di bulan November juga turut menambah sentimen negatif untuk downtrend dolar selanjutnya. The Fed telah memangkas suku bunga sebesar 75 basis poin dalam tahun ini, dan pasar futures menargetkan pemangkasan 25 bps pada sidang The Fed
tanggal 11 Desember mendatang. (RISET-iwan)
Friday, November 23, 2007
Market Review
Posted by Russley Futures-Administrator



