Dollar Tertekan, Euro Rekor Tembus $1.47, Sterling Melewati $2.10
Mata uang dollar terus mengalami tekanan, terakhir melemah makin dalam terhadap euro di level terendah baru dalam sejarahnya di level $1.4705. Terhadap sterling, dollar tergelincir di posisi terendah sejak 26 tahun lalu pada Mei 1981 di level $2.1027.
Semalam greenbuck ini juga ambruk terhadap yen, pada level Y113.07. Tebersit adanya signal dari daratan China untuk mendiversifikasikan cadangan devisanya keluar dari dollar akibatnya mata uang Amerika ini sempat terhempas sesaat di perdagangan valuta sesi perdagangan kemarin (07/11).
Disebutkan bahwa Cheng Shiwei, wakil ketua Kongres Rakyat Nasional China, menyatakan bahwa China harus mempertimbangkan untuk menggeser portfolio cadangan valuta asingnya ke mata uang yang lebih kuat seperti euro. Namun, dia membantah bahwa komentarnya ini adalah berarti China harus membeli lebih banyak euro.
Analis dari BNP Paribas mengatakan bahwa "Komentar demikian, walaupun agak membingungkan dan hanya disampaikan oleh level ketiga kepemimpinan di China, tak ayal telah membuat aksi jual dollar.”
Dollar secara umum saat ini sedang tertekan oleh kekuatiran akan resesi ekonomi Amerika sehingga anjlok ke level terendah terhadap euro dan Aussie dollar serta terlemah multi-dekade terhadap Canadian dollar serta pound Inggris.
Euro pada sesi pasar London sempat menyentuh di atas $1.47 dan sepertinya akan stabil di level atas tersebut. Analis pasar melihat kemungkinan gain lanjutan sampai ke $1.50 karena fundamental pasar yang tidak memihak kepada dollar. Sementara itu pound menembus level $2.10, tertinggi barunya sejak tahun 1981. Untuk USD/JPY, akan terus berindikasi diperdagangkan dalam tren melemah.
Wall Street Berdarah
Terpantau bahwa indeks saham di Wall Street semalam anjlok tajam hingga ke level terendahnya sejak September. Sentimen memang tengah buruk oleh adanya kekhawatiran akan kondisi sektor perumahan dan keuangan sebagai dua sektor utama yang terkena imbasan dari krisis kredit kemarin. Terpuruknya nilai tukar dolar juga membuat pasar semakin ragu akan kondisi fundamental perekonomian AS dalam jangka pendek ini.
Selain itu, laporan General Motors Corp. yang tunjukkan posisi kerugian dalam jumlah rekor terbesar juga membuat sentiment pasar semakin lesu malam kemarin. Washington Mutual Inc., institusi simpan pinjam terbesar AS, terpantau alami pelemahan terbesarnya selama 20 tahun setelah kejaksaan New York mengatakan bahwa piutang kredit perumahan yang dimiliki perusahaan tersebut seharusnya tidak dijual ke pada Fannie Mae dan Freddie Mac. Fannie Mae sendiri juga anjlok dengan level terbesar selama dua dekade, dan Freddie Mac ambruk ke level terendahnya selama tujuh tahun.
Semua indeks AS merah semalam, di mana indeks Standard & Poor's 500 turun sebesar 29.93 poin atau 2% ke level 1,490.34; Dow Jones Industrial Average anjlok sebesar 255 poin atau 1.9% menjadi 13,405.94; dan Nasdaq Composite Index meluncur turun sebesar 49.13 poin atau 1.7% menjadi 2,776.05.
Belum ada pertanda kuat bahwa kinerja bursa AS akan segera bangkit, sebagai dampaknya, obligasi pemerintah AS menjadi lebih laris sekarang ini oleh aksi investor yang mencari tempat yang aman untuk menginvestasikan dananya. (RISET-iwan)
Thursday, November 08, 2007
Market Review
Posted by Russley Futures-Administrator



