Monday, October 29, 2007

Market Review

Dollar Menembus Level Terendah Baru

Perdagangan pasar AS akhir minggu, Jumat 26 Oktober nilai dolar AS merosot tajam menuju rekor terendah di tengah spekulasi bahwa the Fed akan menurunkan tingkat suku bunga kembali, setelah pertemuan G7, akibatnya para investor segera menjual dolarnya. Dollar melemah hingga rekor terendah terhadap mata uang Euro di level $1.4393 pada hari Jumat kemarin (26/10), menurut Interbank Foreign Exchanges Rates dari Dow Jones. Dolar tercatat melemah sekitar 50 sen di bawah level terendah sebelumnya di level $1.4348 pada hari Senin kemarin.

Agenda pada pertemuan KTT G-7 gagal untuk membicarakan pada pelemahan dolar walaupun maraknya laporan-laporan mengecewakan tentang perekonomian Amerika Serikat, termasuk laporan tentang data durable goods menurun sebesar 1.7 persen pada periode bulan September, bahkan pada periode bulan Agustus lebih besar penurunannya 5.3 persen. Ini merupakan penurunan terus menerus untuk pertama kalinya dalam setahun lebih ini dan ini mengejutkan para ekonomi. Dolar melemah pada perdagangan hari Jumat kemarin yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak di atas $92 pada perdagangan overnight dan kontrak emas menyentuh level tertingginya sejak Januari 1980. Ada himbauan di pasar untuk melakukan diversifikasi investasi menggantikan dolar. Bank-bank Sentral di kawasan Asia, para pemodal besar yang memegang dolar dan investasi-investasi barbasiskan dolar sekarang mulai melihat emas, suatu komoditas yang langka dengan permintaan yang terus bertambah, sebagai suatu alternatif investasi untuk mengurangi penurunan pada mata uang.

Menurunnya laporan data manufacturing yang diikuti oleh laporan-laporan ekonomi lain yang menunjukkan pelemahan pertumbuhan ekonomi, termasuk juga masih berlanjutnya penurunan data existing homes sales. Data-data tersebut memperburuk berita mengenai perekonomian US dan berakibat para investor melepas dolar mereka, sekalipun pada saat volatilitas pasar yang tinggi, apalagi pada minggu depan data yang akan dirilis antara lain dari data ketenaga-kerjaan, consumer confidence, data ekonomi dan pertemuan the Fed tentang tingkat suku bunga. "Dengan pergerakan kemarin dari data ekonomi AS membuktikan bahwa penurunan tingkat suku bunga 50 basis point yang lalu belum sesuai untuk menggerakkan permintaan," demikian dikatakan James Hughes, analis pasar di CMC Markets di London.

Beliau mengatakan juga para trader dan pelaku pasar mengharapkan bahwa the Fed akan menurunkan tingkat suku bunga dari 4.75% minggu depan ini. Kebalikannya dolar masih akan melemah oleh karena spekulasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan meningkatkan tingkat bunga nya menjadi 4.25 persen. Walaupun penurunan suku bunga dapat memacu peningkatan ekonomi, tapi hal ini dapat melemahkan dollar dikarenakan investor memindahkan sejumlah dana ke negara dimana simpanan dan investasi lainnya menawarkan keuntungan yang lebih tinggi. Peningkatan suku bunga dapat menguatkan mata uang.

Konsumen-konsumen US menemukan bahwa pendapatannya berkurang karena kenaikan harga energi dan biaya-biaya pinjaman yang lebih tinggi, mereka akan memilih untuk menahan diri dari perjalanan luar negeri. Sebagai gantinya, "mereka akan liburan domestik di dalam negeri sampai wisata ke Kanada," demikian dikatakan Woolfolk. Woolfolk juga mengatakan bahwa Industri wisatawan di Amerika akan menjadi penolong dolar, karena ada penghasilan dari wisata, sehingga pada taraf tertentu dapat menutupi rugi dari penurunan di sektor perumahan.

Pelemahan dolar akan meningkatkan kegiatan ekspor luar negeri dan berkurangnya pekerjaan industri AS . Pada perdagangan di Bursa New York, dolar melemah terhadap poundsterling di level $2.0521. Pada perdagangan Kamis, Poundsterling diperdagangkan di level $2.0511. Dolar juga melemah terhadap Swis franc, dollar diperdagangkan melemah ke level 1.1645 dari level 1.1657. Sementara itu dolar menguat terhadap yen, menguat ke level 114.22 pada perdagangan Jumat kemarin dibandingkan dengan level 144.06 pada perdagangan Kamis yang lalu. (RISET-iwan)

Komentar Analis

Berita Terbaru

Forecasts dan Analysis