Monday, September 24, 2007

Market Review

Euro Belum Puncak, Besar Risiko Trend Reversal


Sejak beberapa waktu yang lalu, market telah bertanya-tanya mengenai kapan euro akan menembus target level 1.40 terhadap dollar. Kini dengan telah tercapainya target tersebut, muncul pertanyaan baru: sampai seberapa jauh euro mampu berlanjut menguat terhadap dollar?

Dalam pasar valas, tren bisa berjalan jauh lebih lama dari harapan para pelaku pasar. Meski resiko balik arah kian meningkat seiring dengan berlanjut menguatnya euro, tidak ada alasan untuk meyakini bahwa euro telah mencapai puncaknya terhadap dollar.

Dari kacamata fundamental kami, dollar tertekan melemah oleh meningkatnya kekhawatiran mengenai perekonomian AS serta kemungkinan pemangkasan lebih lanjut suku bunga Federal Reserve. Ekspektasi suku bunga dalam hal ini diyakini sebagai penggerak utama.

Melemah tajamnya dollar minggu ini merupakan dampak instan dari pemangkasan suku bunga yang melebihi perkiraan serta peluang pemotongan suku bunga sebesar 25 hingga 50 basis poin lagi tahun ini.

Meski demikian, tidak bisa diremehkan bahwa semakin jauh dollar melemah semakin besar pula resiko balik arah (trend reversal). Melemahnya mata uang dalam hal ini akan sangat membantu pulihnya perekonomian dengan pengaruhnya pada tekanan inflasi serta terangkatnya ekspor.

Sehingga tergantung mana target yang tercapai lebih dulu, pertumbuhan atau inflasi. Pada saat itu, dollar hanya butuh beberapa data perekonomian yang menunjukkan perkembangan positif untuk membalik posisi versus euro atau sebaliknya.

Euro Terkoreksi dari Level 1.41 Setelah Indeks Pembelian (Manufacturing PMI) Melemah

Dalam pergerakan pasar sesi Amerika malam sampai Sabtu dini hari (22/09) mata uang euro terpantau terkoreksi, setelah sempat menyentuh level rekor tertinggi di atas 1.41 terhadap dollar oleh karena aksi profit-taking serta data indeks pembelian pabrik (Purchasing Manager Index – PMI) di kawasan Eropa yang ternyata lemah, sehingga meningkatkan spekulasi pasar bahwa European Central Bank (ECB) belum akan menaikkan suku bunganya pada tahun ini.

Data awal survey pembelian di bulan September untuk kawasan Eropa, baik untuk sektor manufaktur maupun jasa keduanya menunjukkan kejatuhan yang cukup tajam. Indeks PMI untuk manufaktur jatuh ke level 53.2, yang terendah sejak periode Nopember 2005, sedangkan indeks jasa anjlok ke posisi terlemah sejak Agustus 2005 di level 54.0. Kedua rilis tersebut lebih rendah dari angka prediksinya.

Sekalipun angka indeksnya masih di atas 50, yang menunjukkan terdapatnya ekspansi pada sektor tersebut, namun figure yang lebih lemah itu tak pelak mengkonfirmasikan bahwa kawasan Eropa pun juga terkena pukulan oleh gejolak pasar keuangan dunia belakangan ini.

Ini memberikan perkiraan bahwa kemungkinan bank sentral Eropa, ECB, akan menaikkan suku bunganya semakin kecil. EUR/USD menutup pasar di sesi Amerika pada level 1.4088 setelah sempat menyentuh level tertinggi di 1.4120 beberapa belas jam sebelumnya. (RISET-iwan)

Komentar Analis

Berita Terbaru

Forecasts dan Analysis