Thursday, August 23, 2007

Market Review

Fitch: Asia-Pasifik Sedikit 'Tercubit' oleh Krisis

Perbankan di Asia Pasifik dipastikan hanya akan tersenggol sedikit oleh krisis subprime mortgage Perbankan di kawasan ini hanya sedikit yang menanamkan investasi di sektor subprime mortgage AS yang kini dilanda kehancuran. Menurut lembaga pemeringkat Fitch Ratings dalam siaran pers yang diterima, Rabu (22/8/2007), perbankan di Asia Pasifik sangat sedikit menginvestasikan portofolionya di sektor yang berisiko tinggi itu. "Kerugian investasi semacam itu memang akan mengurangi pendapatan tahunan, namun tidak akan menimbulkan risiko sistemik karena mereka tidak memberikan ancaman yang serius pada bank-bank yang kami survei," ujar Managing Director dan Kepala Institusi Finansial Fitch di Asia Pasifik, David Marshal.

Namun Fitch menegaskan, eksposure di subprime mengancam penurunan valuasi mark to market dan kerugian ekonomi secara riil. Kerugian mark to market akan merefleksikan penurunan yang cepat dari nilai pasar sekuritas-sekuritas. Sekuritas dengan peringkat 'AAA' dan 'AA' kemungkinan akan menderita dampak yang lebih kecil, sementara yang berperingkat dibawahnya akan mendapat kerugian yang lebih signifikan. Khusus untuk Indonesia, Fitch tidak mendapatkan laporan adanya bank yang menderita kerugian akibat eksposure di subprime mortgage. "Beberapa diantara bank memang memiliki investasi yang kecil dalam surat utang yang dikeluarkan ABCP melalui cabangnya di New York, namun jumlahnya sangat kecil yakni hanya 0,2% dari total nilai aset," demikian pernyataan dari Fitch.

Subprime Mortgage Bisa Jadi Berkah untuk Bank Lokal

Krisis subprime mortgage di Amerika Serikat (AS) bisa memberi berkah kepada bank-bank lokal. Para investor yang sebelumnya selalu mencari utang dari luar negeri, diperkirakan akan berbalik melirik pendanaan dari bank-bank lokal. "Akibat dari subprime mortgage, perbankan bisa positif. Kesulitan kredit selama ini kan bukan karena bank tidak mau mengucurkan kredit, tapi karena investornya mencari dana keluar negeri," kata ekonom Bank Mandiri Martin Panggabean dalam diskusi dikantornya, Plaza Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (21/8/2007).

Ia menjelaskan, dengan adanya krisis subprime mortgage, sentimen positif terhadap negara-negara berkembang akan kembali muncul sehingga bank-bank asing akan kembali menaikkan suku bunga terhadap peminjam dari negara berkembang termasuk Indonesia.

"Jadi kemungkinan 3-6 bulan mendatang akan ada pelunasan terhadap pinjaman dari luar negeri dan balik ke bank dalam negeri," jelasnya. Menurut Martin, pembalikan itu juga terjadi karena kemungkinan The Fed tidak akan menurunkan Fed Fund Rate mengikuti penurunan tingkat suku bunga diskonto. Hal ini dikarenakan The Fed masih mengkhawatirkan masalah inflasi AS jika Fed Fund Rate diturunkan. Sementara BI Rate kemungkinan bisa diturunkan di kisaran 8 persen di tahun 2007 jika krisis subprime selesai, dan nilai tukar rupiah tidak lebih tinggi dari 9.700-9.800 per dolar AS."Penurunan BI Rate diperkirakan tidak akan terlalu dalam, kemungkinan bisa diturunkan lagi sampai 7,75% atau 7,5%. Itupun akan sangat sulit," jelasnya.Untuk inflasi, Martin memperkirakan kecenderungannya sampai akhir tahun akan kembali menurun, meskipun harga makanan meningkat. Inflasi diperkirakan mencapai 6,5% hingga akhir tahun. "Target pemerintah asumsinya akan tercapai," ujarnya. (Bisnis Indonesia/RISET-iwan)

Komentar Analis

Berita Terbaru

Forecasts dan Analysis