Monday, August 13, 2007

Market Review

Dollar Cenderung Menguat Imbas Panik pada Bursa Global

Minggu kemarin risk aversion kembali mempengaruhi carry trade unwinding dalam pasar global, berarti tekanan jual pada euro, poundsterling dan dolar Australi terhadap dollar Amerika dan menguatnya yen terhadap mata uang major. Risk aversion adalah kondisi dimana toleransi investor terhadap resiko sedang rendah sehingga pengurangan eksposur terhadap resiko dilakukan dengan menjual investasi yang pembeliannya didanai secara carry trade. Pada awal sesi Eropa, bank terbesar di Perancis BNP Paribas membekukan penarikan dana dari 3 perusahaan investasinya yang menanamkan modal di sektor kredit sub-prime Amerika. Walau jumlah total dana 3 perusahaan tersebut hanya €1,6 milyar sedangkan total dana yang dikelola oleh BNP Paribas sebesar € 356 milyar, kekuatiran pasar bahwa masalah sub-prime adalah masalah global menjadi kenyataan dengan institusi keuangan besar seperti Bear Stearn dan BNP Paribas terlibat. Indeks VIX, pengukur volatiliti dan risk aversion, meningkat hingga level tertinggi dalam tahun ini.

Penjualan besar-besaran pada bursa saham terjadi sehingga indeks CAC, DAX, FTSE dan DJIA turun ratusan poin atau sekitar 2%. Dengan dijualnya saham dan kontrak futures, investor memburu bentuk investasi yang dinilai paling aman, obligasi pemerintah. Gelombang pembelian obligasi pemerintah Eropa, Inggris dan Amerika ini menyebabkan yields dari Bunds dan Gilts turun 4 poin dan yields dari 10-yr US Treasuries turun hingga 9 poin, penurunan terbesar sejak 2004. Selain itu penjualan segala bentuk investasi ini menyebabkan likuiditas dalam perbankan berkurang sehingga LIBOR atau tingkat suku bunga antar bank mencapai level tertingginya dalam 6 tahun hanya beberapa jam setelah pengumuman BNP Paribas. Credit crunch terjadi. Hal ini menyebabkan ECB segera mengucurkan dana sebesar € 95 milyar untuk pertama kalinya sejak 9/11 2001, dan the Fed menyuntikkan dana sekitar $24 milyar ke perbankan Amerika.

Interest rate funds futures pada Jum'at minggu lalu telah memperhitungkan 100% akan ada penurunan suku bunga dari the Fed bulan depan, dan 100% kemungkinan adanya penurunan suku bunga lagi sebelum akhir tahun. Carry trade unwinding sehubungan dengan penjualan tajam pada bursa Asia mempengaruhi euro, poundsterling dan dollar Australi untuk kembali melemah terhadap dollar AS, sementara yen menguat terhadap mata uang major. Dalam keadaan panik melanda pasar global, dollar AS biasanya dibeli karena faktor safe-haven. Fokus masih pada perkembangan sentimen pasar terhadap resiko, dengan performa bursa saham kembali mempengaruhi pergerakan pasar valuta. Kalau sentimen pasar membaik, ada kemungkinan bursa saham Eropa dan Inggris akan rebound sehingga memungkinkan euro dan poundsterling untuk kembali rally terhadap dollar AS.

Tetapi kalau sentimen masih negatif dan ada berita buruk lebih lanjut, penjualan saham lebih lanjut bisa mempengaruhi poundsterling mencoba menembus kebawah 2,0000. Tidak ada data ekonomi dari Inggris hari ini. Dari Perancis akan ada data produksi industri dan manufaktur untuk bulan Juni, dan dari Itali ada GDP kuartal dua dan CPI untuk Juli, kemudian ada Leading Indicator zona Eropa untuk bulan Juni. Nanti malam hanya data minor pengukur tekanan inflasi dari harga barang impor dan ekspor. Walau perkiraan tahunannya menunjukkan tekanan inflasi semakin besar, tidak akan merubah pandangan pasar mengenai penurunan suku bunga bulan depan. Kemungkinan data tidak akan terlalu mempengaruhi pergerakan. (Bloomberg/Riset-.iwan)

Komentar Analis

Berita Terbaru

Forecasts dan Analysis