Australian Dollars dan New Zealand Dollars Semakin Meranggas
Australian dollar dan New Zealand dollar menguat tertinggi selama dua dekade. Kemari menjadi satu-satunya currencies dengan volatilitas tertinggi. Penguatan itu lebih banyak disebabkan terutama oleh semakin melebarnya perbedaan yield antara obligasi (bond) pemerintah Australia dengan yield obligasi dari U.S.
Dollar jatuh terhadap hampir semua major currencies, akibat semakin tingginya tingkat laju inflasi negara tersebut.
``The Australian and New Zealand dollars are benefiting the most as bond spreads with the U.S. widen,'' kata Sue Trinh, currency strategist RBC Capital Markets, Sydney. ``There was broad U.S. dollar selling and Treasuries rallied.''
“Australia's dollar will rise to 90 cents and New Zealand's to 80 cents over the next six months,” tambah Trinh.
Sebagai perbandingan, pada tanggal 29 Juni bunga obligasi pemerintah Australia dengan jatuh tempo (maturity date) masa dua tahun ditetapkan 1.59 percent. Angka tersebut jauh diatas bunga obligasi yang ditawarkan oleh pemerintah U.S. Dimana sebelumnya bunga obligasi dengan masa jatuh tempo yang sama hanya sebesar 1.56 percent. Kondisi itu serupa dengan yang terjadi pada bunga obligasi dari New Zealand (two-year notes yield ) yakni sebesar 2.46 percentage points, terjadi diferensiasi selisih tertinggi sejak 10 May lalu.
Data The price index untuk U.S. personal consumption expenditures excluding food and energy, menurut the Federal Reserve data tersebut menjadi tolok ukur besaran inflasi.
Australians dollar, kemarin menduduki peringkat ketiga dengan menyandang best performer setelah Canada, untuk volatilitasnya. Dikuatkan oleh kebijakan kenaikan ratenya, tertinggi selama enam tahun, 6.25 percent.
Rate Differential
``The interest-rate differential will continue to support the Aussie and kiwi,'' ujar Stephen Halmarick, co-head of economic and market analysis Citigroup,Sydney Australia. ``We have both the Reserve Bank of New Zealand and the Reserve Bank of Australia raising rates again over coming months.''
Pelaku pasar masih berharap agar the Reserve Bank of Australia untuk segera kembali menaikkan ratenya, paling tidak berada di kisaran 6.75 percent tahun depan, namun penguatan itu juga setidaknya didukung dengan data Credit Suisse index.
Pergerakan terbesar sedunia sampai hari ini masih didasarkan oleh perubahan pada nilai mata uang serta volume perdagangan harian. Dan itu belum berubah faktor-faktornya. (RISET-iwan)



