Dollar Menguat, Setelah Rilis Data Index Manufacturing Philadelphia
US dollar menguat terhadap yen dan euro setelah Federal Reserve merilis laporan Manufacturing Philadelphia. Dalam laporannya disebutkan bahwa sektor manufaktur menunjukkan akselerasi yang konstan untuk bulan Juni ini, tercepat lebih dari dua tahun.
Dalam data tersebut juga dapat di indikasikan bahwa masih tersedia ruang bagi Fed untuk tetap menahan benchmark borrowing costs nya, dimana costs tersebut tertinggi sejak tahun 2001.
U.S. dollar hanya menguat 0.1 percent, $1.3391 per euro pada pukul 12:09 p.m. waktu New York, jika dibanding kemarin yang berada pada $1.3404. Dollar juga menguat 0.1 percent terhadap Yen, 123.70 yen dari 123.57.
Index dari The Fed Bank of Philadelphia's adalah 18.0 untuk bulan ini, berbeda dengan prakiraan yang dibuat oleh para Economists di Bloomberg News survey yang hanya memberi angka index sebesar 7.0.
``A strong upside from the manufacturing data will support the dollar,'' ujar Matthew Strauss, senior currency strategist pada RBC Capital Markets Inc, Toronto, salah satu unit dari bank terbesar assetnya di kawasan Canada. ``At least it suggests resilience in manufacturing, which offsets concern of a slowdown in the housing market. But the move could be overshadowed by U.S.
Pejabat moneter The Fed segera mengagendakan pertemuan selanjutnya pada tanggal 28 Juni nanti dengan agenda tunggalnya soal benchmark interest rate.
Implikasi dari Volatility Dollar
Implikasi atas volatility dollar-yen selama satu bulan ini jatuh dari 6.05 percent hingga 5.95 percent kemarin malam. Dengan rendahnya tingkat implikasi volatility, memperkecil resiko akibat fluktuasi nilai tukar mata uang kedua negara tersebut. Yang pada akhirnya memberi peluang bagi investor untuk melakukan carry trades.
Sebagian besar perusahaan keuangan Japan menanamkan asset mereka hingga lebih 1.5 trillion yen ($12.1 billion) dalam bentuk foreign-currency investment trusts selama bulan Juni ini, merujuk data dari Bloomberg.
``There is the risk there will be further outflows,'' ucap Jeremy Stretch, senior market strategist Rabobank Groep, London. ``That continues to be one of the primary factors behind yen weakness.''
Pemerintah U.S. juga melaporkan bahwa klaim pengangguran terjadi peningkatan yang sedikit berarti, melampaui ekspetasi. Menunjukkan dimana pasar tenaga kerja sedang lesu.
Dalam laporan terpisahnya, ukuran atau standar indikator ekonomi berdasarkan data leading U.S. economic indicators, menunjukkan arah yang baru, signal perubahan tren menjadi menguat paling tidak untuk tiga sampai enam bulan ke depan jika dibandingkan dengan ukuran-ukuran pada bulan May lalu. (Bloomberg, RISET-iwan)



